Kamis, 12 Maret 2009

Mengenai Tawassul Bag 1

Makna tawassul banyak disalahfahami di dalam Islam pada masa kita sekarang, sehingga hal ini memaksa kita untuk melihat kembali makna dasar tawassul secara bahasa dan maknanya secara syariat sebelum berbicara tentang hukum tawassul dengan Nabi sallaLLahu 'alaihi wasallam.

Makna Wasilah secara bahasa dan syariah :

Kata wasilah dari segi bahasa

Martabat atau kedudukan di sisi raja. Ia juga bermakna darjat, pangkat dan juga kedekatan. Jika seseorang bertawassul kepada ALlah subahanahu wa ta'ala dengan suatu wasilah, maka ertinya dia melakukan suatu amalan yang mendekatkan dirinya kepada ALlah subahanahu wa ta'ala. Perkataan Al Wasil bermaksud orang yang berhasrat kepada ALlah subahanahu wa ta'ala.

Makna wasilah secara syariat :

Maknaya tidak keluar jauh dari bahasa sebab urusan utama kehidupan muslim adalah bagaimana mendekatkan diri kepada ALlah subahanahu wa ta'ala mencapai keredhaan dan memperoleh pahala dariNya. Rahmat ALlah subahanahu wa ta'ala adalah Dia telah menetapkan bagi kita seluruh ibadah sebagai pintu mendekatkan diri kepadaNya. Maka orang Islam sentiasa mendekatkan diri kepada ALlah dengan pelbagai jenis ibadah yang telah disyariatkan oleh ALlah subahanhu wa ta'ala.

Ketika seorang Muslim melaksanakan solat. sesungguhnya ia sedang mendekatkan diri kepada ALlah subahanahu wa ta'ala dengan solat iaitu bertawassul kepada ALlah dengan solat ini. Oleh itu, kandungan al Quran seluruhnya memerintahkan kepada kita untuk berwasilah (mendekatkan diri) kepada ALlah subahanahu wa ta'ala.

ALlah menyebutkan kata wasilah di dalam kitab suciNya yang mulia di dalam 2 ayat. Pada ayat pertama ALlah menunrunkan perintah melakukannya. ALlah berfirman yang bererti :


"Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada ALlah subahanahu wata'ala dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepadaNya (Al Maidah :35)



Pada ayat yang kedua, ALlah memuji orang-orang yang bertawasul kepadaNya dalam doa seruan mereka. ALlah subahanahu wa ta'ala berfirman yang bererti :


Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan (wasilah) kepada Tuhan mereka, siapakah di antara mereka yang lebih dekat (kepada ALlah) dan mengharapkan rahmatNya dan takut akan azabNya. Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang amat (harus) ditakuti" (Al Isra' : 57)


Empat mazhab feqah besar sepakat di atas bolehnya bertawassul dengan Nabi sallaLlahu 'alaihi wasallam bahkan menegaskan anjuran terhadap hal itu dan tidak membezakannya apakah dilakukan pada saat Baginda hidup atau setelah Baginda wafat.

Tidak ada yang berpandangan ganjil (berbeza) dari pendapat ini kecuali Ibnu Taimiyyah yang membezakan antara tawassul dengan Nabi sallaLlahu 'alaihi wasallam pada saat masih hidup dan setelah Baginda wafat. Oleh itu, kami tetap mengajak umat Islam berpegang teguh dengan kesepakatan pendapat para imam yang merupakan tokoh-tokoh umat ini,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.